PMP/PPkN

PMP adalah Pendidikan Moral Pancasila yang sempat berubah nama menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Nah, yang seumuran dengan saya atau yang lebih tua pasti tahu istilah tersebut. Karena, saya dengar sekarang PPkN ganti nama lagi menjadi KWN (Kewarganegaraan). Tapi karena saya kurang familiar dengan istilah KWN, izinkanlah saya memakai “PPkN” saja.

PPkN adalah pelajaran yang tidak ada di perkuliahan di tempat saya, USA (ya jelas tidak ada, USA kan tidak pakai Pancasila 😆 ). Oleh karena itu, saya jadi kangen dengan pelajaran ini. Ingat dengan aneh nya pelajaran tersebut. Pelajaran PPkN cukup penting untuk menanamkan nasionalisme yang kuat bagi generasi muda indonesia. Hanya saja, kadang-kadang pelajaran ini dulu saya rasa agak doesn’t make sense. Tidak begitu jelas apa tujuan utama yang harus siswa capai apabila sudah mempelajari PPkN.

Belum lagi dengan soal-soal latihan dan ulangan yang ribet, walaupun sebagian kecil dari soal-soal tersebut membuat saya tersenyum sendiri di dalam hati. Sebagai contoh:

Kamu memiliki adik. Kamu senang menonton televisi, tetapi Adik senang mendengar radio. Pada suatu waktu, kalian melakukan hal tersebut bersamaan. Karena rumah kalian kecil, suara televisi dan radio tabrakan. Sebagai saudara yang baik, apa yang sebaiknya kamu lakukan?
A. Menyuruh adik mematikan radio nya
B. Memarahi adik
C. Menghancurkan radio adik
D. Tetap menyalakan TV mu
E. Mendiskusikan kepada adik supaya masing-masing bisa mendengar radio dan nonton televisi dengan waktu bergantian, sehingga tidak konflik.

Jawaban yang benar tentu saja yang E. Tapi hal ini membuat saya gemes. Karena, kalo kisah di atas benar-benar terjadi sama saya, tidak ada satupun jawaban yang akan saya pilih dari A sampai E itu. Melaikan, saya akan langsung membeli Headphone. Entah itu TV saya yang saya colokkan Headphone, atau saya suruh adik yang colokkan headphone nya ke radio dia. (Masa bisa beli TV dan Radio tapi beli Headphone tidak bisa? Di indonesia, 10 ribu rupiah sudah dapet headphone kabel panjang yang mantap :P). Sehingga, outcome nya jauh lebih efektif dan efisien.

Kembali lagi sewaktu saya SMA (kelas berapanya tak usah disebut ya, nanti kalo saya ketahuan, bisa-bisa saya dilaporkan ke guru yang bersangkutan hahahah 😛 ). Pelajaran PPkN terletak pada akhir hari di sekolah. Pelajaran terakhir berarti apa? Ngantuk, bosan, lelah, capai. Badan masih di kelas tapi jiwa sudah melayang ke rumah. Telinga masih mendengar guru ‘mengkhotbahkan’ PPkN, tapi pikiran sudah menunggu kapan bel berdering. Mata masih melihat buku PPkN tapi bayangan sudah yang ‘bukan-bukan’.


Untunglah saya punya cara yang sangat-amat-teramat jitu untuk mengenyahkan rasa kantuk ini dalam hitungan detik :D.

Kalau anda masih ingat buku pelajaran, di setiap akhir bab selalu ada soal latihannya. Apakah itu pilihan ganda  (multiple choices) atau essay. Begitu pula di buku pelajaran PPkN, selalu ada soal latihan di akhir tiap bab, yang kebanyakan pilihan ganda.

Pada saat si guru PPKN selesai mengajarkan suatu bab, biasanya dia menyuruh kami semua (sekelas) untuk menjawab pertanyaan pilihan ganda pada buku cetak kami. Misalnya si guru akan memanggil nama, “Ferdi! Coba kamu jawab nomer 1”. Maka Ferdi pun menjawab “Nomer 1 pertanyaannya …bla bla bla… jawabannya D pak!”

Nah akhirnya tiba juga giliran saya…

Pak Guru: Mikha, coba kamu jawab nomer 2!

Mikha: Nomer 2. Kamu memiliki adik dengan hobby yang berbeda denganmu. Kamu senang menonton televisi, tetapi Adik senang mendengar radio. Pada suatu waktu, kalian melakukan hal tersebut bersamaan. Karena rumah kalian kecil, suara televisi dan radio tabrakan. Sebagai saudara yang baik, apa yang sebaiknya kamu lakukan?

Mikha: A. Menyuruh adik mematikan radio nya; B. Memarahi adik; C. Menghancurkan radio adik; D. Tetap menyalakan TV mu; E. Mendiskusikan dengan adik untuk kapan kamu menonton TV dan kapan adik mendengar radio, sehingga tidak tabrakan.

Mikha: Jawaban yang benar adalah…. B pak. (di sini, saya sengaja menjawab yang salah. Sebagai akibatnya, ketawa saya ingin meledak tapi saya tahan sekuat tenaga sampai muka merah. Setelah itu, dijamin rasa kantuk HILANG 123% 24 ).

Pak Guru: Hmm..kamu salah. Jawaban yang benar adalah E.

Mikha (pura-pura tersadar): Oh iya pak.

Pak Guru: Berikutnya, Jaya. Coba jawab nomer 3!

(Silakan coba cara ini yah. Kalau anda kuat menahan ketawa, anda bisa menjawab C (jawaban yang paling tidak rasional). Tapi kalo anda kurang kuat menahan ketawa, pilihlah jawaban yang salah tapi yang agak masuk akal, seperti saya memilih B) 😀


Bagi saya, pelajaran Sejarah dan PPkN lebih cocok dibagi ke dalam 3 pelajaran tersendiri:

  1. Kewarganegaraan: Pendidikan Pancasila dan Hukum Negara
  2. Sejarah dan Politik Indonesia
  3. Agama, Moral, dan Psikologi

Sehingga, ketiga pelajaran tersebut memiliki koridor masing-masing dan memiliki tujuan yang jelas bagi siswa. Sebagai contoh, untuk pelajaran nomer 3 (Agama, Moral, dan Psikologi), kita bisa diajarkan menghadapi orang sesuai dengan  latar belakang, keadaan, karakter, temperamen, dan kepribadian orang tersebut (dan menurut saya ini jauh lebih berguna dan aplikatif daripada sekedar menentukan waktu yang tepat bagi abang dan adik untuk menonton TV dan mendengarkan Radio).

Yah itu saja sekian pemikiran saya untuk PPkN. Semoga teman-teman bingung deh hahahah :lol

Iklan

9 comments so far

  1. uliana on

    Wah Babang….Omah dan Mama setengah mati ketawa membaca cerita ini…kata Oma..gak nyangka Babang itu bisa ngerjain orang seperti itu,pokoknya lucu…cerdik dan kok bisa2nya kepikiran seperti itu ya….?

  2. Adi on

    Sekarang namanya pendidikan kewarganegaraan (Pkn), tapi kok tidak ada Pancasilanya ya? Di kuliah saja ada dua matakuliah, matakuliah pancasila dan kewarganegaraan..

    Salam saya,
    Budaya Ngeblog

  3. yudha on

    keren usul dan gagasan kamu,
    bicara masalah pendidikan perlu pembenahan besar2an, karena udah terlalu banyak yang ndak jelas di susunan kurikulumnya.
    seperti tersirat kesan setengah2 dalam dunia pendidikan kita, seperti memberikan agar kita sama seperti yang lain dan bukan menjadikan pandai dan kritis dalam artian life skill. terbukti dengan banyaknya lulusan akademisi yang kebingungan saat selesai dari bangku kuliah dan pendidikannya. dan berakhir dengan menghitung bintang alias nganggur. ya PMP jadi PPkN diera sapa, PPkN jadi Kewarganegaraan diera skrg, besok apalagi … tapi tetap aja ndak ada yang konkret dan tepat sasaran, tetap membingungkan dan membingungkan pada sebuah proses mencerdaskan kehidupan bangsa katanya….

  4. Debby on

    baca 2 kali br ngerti ternyata, kamu seusil aQ Mik… 😛

  5. orange float on

    PPKN kadang bikin ngantuk apalagi gurunya yang ngak asyik malah makin mendukung tuk tidur di kelas :mrgreen:

  6. echa on

    diITB kan ada dek…kmu dapet jg kan? kk dapet B…hampir ktiduran dkelas… dan cara ngilangin ngantuk ya ngrjain tugas studio dkelas, ga ketauan soale tu kelas besar dan kk slalu duduk paling blakang heheh…:p

  7. intan on

    Aduh jailnya si babang…

  8. hilda widyastuti on

    seru mik, pemikiranmu ttg beli head phone.

  9. a28 on

    Mik2, ada cari lain juga buat nahan kantuk ini, pura2 ndak enak badan tiap 30menit akhir pelajaran ini,lumayan ngadem diuks sambil tiduran….=))


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: