Ceroboh Naik Angkot

Saya jadi ingin menceritakan kecerobohan saya naik angkot, karena teman blog saya, Huang, menceritakan kecerobohan dia naik angkot pada blog nya. Hanya saja maaf apabila saya tidak menyertakan foto pada posting ini, karena sekarang saya sedang tinggal nun jauh dari Indonesia (jadi tidak mungkin memotret angkot Photobucket).

Saya menghabiskan masa kecil saya di Rumbai, Provinsi Riau. 12 tahun lamanya saya tinggal di sana, dari playgroup sampai SMP 105. Seperti apa Rumbai itu? Bisa teman-teman lihat pada link berikut: I Miss Rumbai. Memang saya tidak persis tinggal di kota Rumbai nya, melainkan pada perumahan karyawan tempat dedi saya bekerja dulu (bahasa kerennya: Rumbai Camp). Semua fasilitas untuk karyawan dan keluarga karyawan tersedia di dalam Rumbai Camp, termasuk transportasi. Ada bus sekolah yang mengantar dan menjemput. Kalau tertinggal? Langsung telepon taksi  khusus Rumbai Camp (hanya 200 rupiah sekali jalan) Photobucket.

Saya sempat pindah ke Duri Camp selama 6 bulan sebelum akhirnya pindah ke Bandung. Itulah sebabnya saya tidak pernah naik angkot sendirian (dan memang di dalam Rumbai Camp maupun Duri Camp tidak ada angkot).

Saat saya pindah ke Bandung (tepatnya kelas 1 SMA semester 2), tentu tidak ada lagi bus sekolah gratis Photobucket. Bahkan bus sekolah pun mungkin tidak ada? Persoalan kedua, saya belum cukup umur untuk membuat SIM mobil saat itu. Sehingga solusinya adalah menaiki angkot sampai titik tertentu, kemudian dijemput orang tua (karena rumah saya agak jauh). Pertama kali saya naik angkot, tentu diajarkan dulu oleh orang tua. Tujuannya apa, cara berhentinya bagaimana, dan tarifnya berapa. Kemudian, barulah saya naik angkot sendiri.

Saya sudah lupa semua jurusannya dan rute-rutenya 7, yang jelas, sesuai judul di atas, saya mempunyai satu pengalaman unik menaiki angkot. Maklum, pada saat itu saya masih “pemula”, baik dalam persoalan naik angkot, maupun persoalan rute kota Bandung 10.

Saya tidak tahu kalau angkot yang saya naiki saat itu mempunyai 2 rute alternatif. Anggap saja begini:

  • A – B – D
  • A – C -D

(Saat tidak ada penumpang yang mau ke rute B, maka angkot akan memotong jalan ke C).

Saat itu, supir angkotnya bertanya, apakah ada yang ingin turun di B? Tidak ada yang menjawab, maka supirnya memotong jalan ke C. Padahal, Seharusnya saya turun di B untuk naik ke angkot berikutnya. Tapi, saya belum begitu tahu rute dan nama jalan. Jadi saya pikir bakal sampai juga, ternyata tidak. 21

Akibatnya, saya terus berada di angkot antara 1-2 jam sampai angkotnya berhenti di ujung rute dia. Sebelum saya turun, saya jelaskan kepada si supir bahwa saya mau berhenti di depan Bank Danamond  (yaitu rute B tadi). Si supirnya langsung pelototin saya beberapa saat, dan menyuruh saya untuk ganti angkot (tapi tentu saya tetap bayar dia). 24

Sejak dari saat itu, saya waspada terhadap rute si angkot. Kalau “menyeleweng”, saya langsung turun sebelum terbawa ke ujung rute lagi.


Itulah sedikit kenangan indah bersama angkot. Sayangnya di tempat saya tidak ada angkot. Padahal menurut saya angkot adalah transportasi massal termurah untuk jarak pendek-menengah. 10

Iklan

13 comments so far

  1. Huang on

    pertamaxxxxx

  2. yugie on

    Sekarang angkot udh mulai sedikit mik, apalagi di jkt. Udh semakin tergeser. Ada bagus engganya juga sih ankgot, dan paling ga suka kalo udh suka bikin macet, berhenti sembarangan. hehe

    • mikha_v on

      Sejauh ini baru 2 hal yang menyebalkan pada angkot:
      1. Kalo nge-tem nya terlalu lama. Saya juga buru-buru nih?
      2. Kalo saya lagi bawa mobil, dan ada angkot yang cara menyetirnya tidak memenuhi standard prosedur keamanan 😆

  3. andry sianipar on

    Salam super-
    Salam hangat dari pulau Bali-
    menarik sekali artikel anda…

    sukses untuk Anda…

  4. uliana on

    Ha…ha…Bang…pernah ketiduran gak kalau naik angkot?
    Soalnya kata Omah,begitu sampai di mobil jemputan,Babang langsung makan dan tidur sampai tiba di rumah…

    • mikha_v on

      pernah kok tapi dalam perjalanan, bukan saat tujuan terlewatkan 😆

  5. hilda on

    alternatif rute sering membingungkan, terutama bagi pemula, misalnya orang yang baru pindah dari kota lain, atau jarang naik angkot

    • mikha_v on

      betul sekali. Kenapa mesti ada rute alternatif ya?

  6. lizbeth mia on

    gimana kalo kaya aku yang suka ketiduran di angkot yah.. wkwkwkwk..

    • mikha_v on

      bangun-bangun sudah sampai titik yang semula (artinya angkotnya sudah muter 😆 )

  7. romailprincipe on

    angkot..sekarang di jakarta busway favoritnya.. 🙂

  8. tante sherly on

    aduuhhhh bang,jadi ingat kalo babang suka muncul di kantor tante di bank danamon otista.
    ingat kan? kenangan banget ya bang….tante tergopoh2 keluar dr belakang banking hall dan nemuin babang yg sudah teler dan lapar,hu…hu…hu….

    • mikha_v on

      nah itu dia maksudnya, Otista. Angkot jurusan apa dari sekolah babang ke Otista ya? Biar dimasukkan ke blog deh, bahwa angkot itu yang punya jalan alternatif 😛


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: