Perspektif

Ini adalah salah satu email terusan (forward) yang dikirim teman saya. Isinya cukup bagus, sehingga saya copy-paste ke sini, saya edit sedikit, dan saya terjemahkan (yah supaya latihan bahasa inggris). Tapi, versi bahasa inggrisnya saya copy-paste juga di bawah (kalau-kalau ada salah terjemahan dan intepretasi hehehe…)

Suatu hari, seorang ayah yang berkeluarga sangat kaya membawa anaknya berjalan-jalan ke pedesaan dengan tujuan untuk memperlihatkan kepadanya betapa miskinnya hidup orang lain.

Mereka menghabiskan siang dan malam di sebuah sawah yang menurut mereka dimiliki oleh keluarga yang sangat miskin.

Pada saat perjalanan pulang, sang ayah bertanya kepada anaknya, “bagaimana jalan-jalannya?”

“Sangat memuaskan!”

“Apakah kamu melihat betapa miskinnya mereka hidup?” tanya ayahnya

“Tentu saja,” jawab anaknya.”

“Jelaskanlah apa yang kamu pelajari dari perjalanan kemarin?” tanya ayahnya kembali.

Anaknya pun menjawab:

“Kita hanya punya satu anjing, tapi saya lihat mereka memiliki empat.

Kita mempunyai kolam yang lebarnya hanya setengah kebun, tapi mereka mempunyai sungai yang tidak memiliki ujung.

kita membeli lentera untuk kebun kita, tapi mereka memiliki bintang di malam hari.

kita hanya memiliki sebidang tanah untuk tinggal, tapi mereka mempunyai lapangan yang luasnya melebihi penglihatan kita.

Kita memiliki pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani orang lain.

Kita harus beli makanan, tapi mereka menanamnya sendiri.

Kita memiliki dinding di sekeliling rumah untuk berlindung, tapi mereka memiliki teman untuk saling melindungi.”

Sang ayah tidak dapat berkata-kata.

Kemudian, sang anak menambahkan, “terimakasih karena ayah telah menujukkan saya bahwa betapa miskinnya kita”.Photobucket


One day, the father of a very wealthy family took his son on a trip to the country with the express purpose of showing him how poor people live.

They spent a couple of days and nights on the farm of what would be considered a very poor family.

On their return from their trip, the father asked his son, ‘How was the trip?’

‘It was great, Dad.’

‘Did you see how poor people live?’ the father asked.

‘Oh yeah,’ said the son.

‘So, tell me, what did you learn from the trip?’ asked the father.

The son answered:

‘I saw that we have one dog and they had four.

We have a pool that reaches to the middle of our garden and they have a creek that has no end…

We have imported lanterns in our garden and they have the stars at night.

Our patio reaches to the front yard and they have the whole horizon.

We have a small piece of land to live on and they have fields that go beyond our sight.

We have servants who serve us, but they serve others.

We buy our food, but they grow theirs.

We have walls around our property to protect us, they have friends to protect them.’

The boy’s father was speechless.

Then his son added, ‘Thanks Dad for showing me how poor we are.’

Isn’t perspective a wonderful thing?

Makes you wonder what would happen if we all gave thanks for everything we have, instead of worrying about what we don’t have.


Sekedar tambahan dari saya, jadi kesimpulannya (sesuai kalimat terakhir yang versi bahasa inggris), ganti perspektif kita. Lebih baik bersyukur atas apa yang kita miliki daripada sibuk khawatir akan apa yang kita tidak miliki. Photobucket

Kata kuncinya adalah bersyukur Photobucket. Ini adalah salah satu hal yang bisa membuat kami (saya & ortu & keluarga) bertahan dalam kondisi buruk. Oh,ย  juga pengalaman teman-teman saya di sini, di sini, dan di sini Photobucket.

Ada satu ayat yang populer dibacakan di kebaktian gereja, bahkan dijadikan lagu oleh True Worshippers:

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya

(1 Tawarikh 16:34, Mazmur 107:1, 118:1, 118:29, 136:1 TB) Photobucket.

Iklan

6 comments so far

  1. Naufal.Com on

    ini dari bibel yap?
    jangan lupa berkunjung ke blog saya di http://adenaufal.wordpress.com dan http://multifungsi.co.cc

    • mikha_v on

      yes dari bible

      Oke, link dicopy ๐Ÿ˜€

  2. dwihutapea on

    Great!! kita memang harus bersyukur..karna tidak ada kondisi yang buruk sebenarnya..
    Balik lagi..itu semua masalah perspektif..

  3. tante sherly on

    Kalo ‘lihat’nya keatas terus bs bikin kita mengeluh krn tdk bersyukur dgn apa yg sdh kita miliki,bknnya memacu semangat utk berbuat lbh baik lg.

  4. ria on

    mikha!!!!!!!!!!!!!!!
    sukaaaaaaaaaa banget. ๐Ÿ™‚
    keren…keren…keren…
    tapi susah banget loh mikh buar dilakuin. beneran deh. hehe.

    • mikha_v on

      Ya memang susah kalo paradigma kita belum berubah.

      Contoh pada saat kita lagi ditimpa kesulitan. Kalo kita mengeluh dan bersungut-sungut, kita itu rugi dua kali.

      Yang pertama, kita rugi karena kesulitan yang dihadapi.
      Yang kedua, kita rugi karena sukacita kita bertambah sedikit gara-gara kita mengeluh dan bersungut-sungut. Maka tambah sengsaralah hidup kita ๐Ÿ˜€

      Tapi, coba kalo kita bersyukur pada saat kesulitan datang. Kita hanya rugi satu kali.

      Satu-satunya rugi hanya karena ditimpa kesulitan. Tapi kita masih punya sukacita karena bersyukur. Bahkan bisa jadi, kesulitan nya tidak kita anggap lagi sebagai kesulitan karena asyik bersyukur hehehe…

      Memang secara teori gampang dan susah dilakukan.

      Tapi jauh lebih baik tahu teori dahulu kan? Kalo teori saja tidak tahu, bagaimana mau (setidaknya mencoba) melakukan??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: