Berkunjung ke rumah Bu Laura
Bu Laura adalah teman dari Bonita. Kebetulan, mami saya bertemu dia pada saat di rumah Bonita. Setelah berbicara panjang lebar, ternyata hot tub (jacuzzi) nya dia mengalami kerusakan. Dia minta tolong kepada dedi saya untuk memeriksa siapa tahu ada kesalahan instalasi listriknya.
Setelah diperiksa, memang ada sedikit kerusakan (apa ya? lupa
). Dedi akan kembali pada hari berikutnya setelah membeli peralatan yang diperlukan. Nah, ternyata Bu Laura ini adalah seorang penyanyi dan pemusik sekalgius guru musik di sebuah Elementary School (Sekolah Dasar)
. Jadi, dia meminta supaya dedi membawa saya di hari berikutnya.
Dalam kebudayaan USA, panggilan “Bu”, “Tante”, dan “Mbak” kepada orang lain yang bukan keluarga kita, bukanlah merupakan hal yang umum. Oran-orang di sini sudah terbiasa dengan “You” dan “I” saja. Tapi tak apalah saya memberikan “Bu” untuk panggilan Laura ini dalam posting saya kali ini
.
Hari Rabu kemarin, saya ikut ke rumah dia. Wah, saya dan Bu Laura benar-benar “bersenang-senang” bersama-sama memainkan beberapa lagu-lagu rohani, baik yang hymnal (dengan aransemen blues-jazz) maupun yang kontemporer
. Dan yang tidak kalah serunya, saya mendapat kesempatan mencoba beberapa alat musiknya:
Ini adalah kecapi tentunya. Tidak terlalu susah memainkannya lho
, kecuali untuk memainkan melodi berkecepatan tinggi, jelas perlu banyak latihan. Tangga nadanya sudah di-set di C. Apabila dilihat lebih dekat, senar bernada C diberi warna hitam, F warna biru, G warna merah (kalau tidak salah begitu ya). Jika ingin bermain pada tangga nada lain, maka nada-nada pada senar bisa diganti-ganti dengan menggunakan tuas yang ada di atas.
Yang ini adalah upright bass (bisa juga disebut double bass, standup bass, acoustic bass, contrabass, contrabass violin, bass violin, bass fiddle, bull fiddle, banyak yah istilahnya?
). Pertama kali saya mencoba bass model ini adalah pada saat SMA (iseng-iseng pinjem bass nya KPA). Bass nya tidak punya fret. Sehingga, untuk mengira-ngira nadanya, harus memakai feeling. Begitu juga dengan senarnya yang bikin jari sakit. Tapi, bass nya Bu Laura ini memiliki senar yang halus dan licin, sehingga enak memainkannya. ![]()
Satu lagi adalah alat musik yang biru ini. Saya baru pertama kali melihat bass yang model ini. Merknya Fender. Bentuknya mirip mainan, apalagi karena ukurannya kecil dan sangat ringan. Tapi jangan salah, harganya 300 dollar. ![]()
Senarnya unik karena seperti plastik (atau nilon?), tidak tegang, dan lembut. Sehingga, nyaman untuk jari.
Fret-nya tidak menonjol, melainkan hanya gambar garis saja.
Bridge-nya juga sangat sederhana. Sayangnya, batrenya sudah habis. Sehingga, tidak bisa saya coba. Saya penasaran dengan suaranya. Kata Bu Laura, bass model ini adalah “versi kecilnya” upright bass. Nah, yang tidak kalah menarik, di label belakangnya (tidak saya foto) tertulis “crafted in Indonesia”
. Hahaha..orang bule saja pakai “produk” Indonesia lho! 
Bu Laura juga akan menjadi guru kursus piano untuk adik saya, dan guru kursus biola untuk saya juga (bahkan, katanya dia mau memberi saya biolanya
! Tapi tunggu diperbaiki dulu). Wah, benar-benar Puji Tuhan deh! Yang penting, akhirnya saya mendapatkan “partner” bermusik yang tempat tinggalnya dekat. ![]()








wah ditunggu karyanya nih..
tukang nge-bass rupanya!
Ngga juga sih. Saya basic nya di piano & keyboard
Asik banget sih liputannya


Benar2 serasa menemukan harta karun dirumah bu laura ya
Ada bermacam2 alat musik plus guru musiknya jg
Nanti kalo kesana,ajak main kerumahnya ya…
wow km suka musik & bs main bbrapa alat musik yach,keren..

drumahku ada piano n gitar, tp gbs mainnya
aku cuma pnikmat musik aja…
Bang…gitar Babang di rumah KBP juga nganggur….pernah dimainkan oleh salah seorang jemaat GMI,tapi menurutnya harus diganti dulu senarnya karena sudah gak bagus katanya….wah….Mama gak tahu caranya tuh…
Mama jadi kangen pingin dengar Babang main musik….
[...] mungkin masih ingat Bu Laura? Saya beberapa kali bermain musik bersama ke rumahnya (bisa KLIK DI SINI apabila ingin membaca postingnya). Sekarang, tiap hari Selasa, saya diminta untuk membantu dia [...]